Rabu, 28 Januari 2015
Sabtu, 01 November 2014
Senin, 28 Oktober 2013
Islam Agama Sempurna
Islam
Untuk Seluruh Manusia
Kata Islam punya
dua makna. Pertama, nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama) Allah.
Kedua, Islam merujuk pada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia
kepada nash (teks) wahyu yang berisi ajaran din (agama) Allah.
Berdasarkan
makna pertama, Islam yang dibawa satu rasul berbeda dengan yang dibawa rasul
lainnya, dalam hal keluasan dan keuniversalannya. Meskipun demikian dalam
permasalah fundamental dan prinsip tetap sama. Islam yang dibawa Nabi Musa
lebih luas dibandingkan yang dibawa Nabi Nuh. Karena itu, tak heran jika
Al-Qur’an pun menyebut-nyebut tentang Taurat. Misalnya di ayat 145 surat
Al-A’raf. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa di Luh-luh (Taurat) tentang
segala sesuatu sebagai peringatan dan penjelasan bagi segala sesuatunya.…
Islam yang
dibawa Nabi Muhammad lebih luas lagi daripada yang dibawa oleh nabi-nabi
sebelumnya. Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya sendiri.
Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Islam yang
dibawanya lebih luas dan menyeluruh. Tak heran jika Al-Qur’an bisa menjelaskan
dan menunjukkan tentang segala sesuatu kepada manusia. Dan Kami turunkan
kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu. (An-Nahl: 89)
Dengan
kesempurnaan risalah Nabi Muhammad saw., sempurnalah struktur kenabian dan
risalah samawiyah (langit). Kita yang hidup setelah Nabi Muhammad
diutus, telah diberi petunjuk oleh Allah tentang semua tradisi para nabi dan
rasul yang sebelumnya. Allah swt. menyatakan hal ini di Al-Qur’an. Mereka
orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk
mereka. (Al-An’am: 90). Dan kamu diberi petunjuk tentang sunah-sunah
orang-orang yang sebelum kamu. (An-Nisa: 20)
Sedangkan
tentang telah sempurnanya risalah agama-Nya, Allah menyatakan dalam surat
Al-Maidah ayat 3. Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan
telah Aku sempurnakan nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagimu
sekalian….
Rasulullah saw.
menjelaskan bahwa risalah yang dibawanya adalah satu kesatuan dengan risalah
yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. “Perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi
sebelumku ibarat orang yang membangun sebuah rumah. Ia memperindah dan
mempercantik rumah itu, kecuali letak batu bata pada salah satu sisi
bangunannya. Kemudian manusia mengelilingi dan mengagumi rumah itu, lalu
mengatakan: ‘Alangkah indah jika batu ini dipasang!’ Aku adalah batu bata
tersebut dan aku adalah penutup para nabi,” begitu sabda Rasulullah saw.
(Bukhari dan Muslim)
Agama
Selain Islam Ditolak
Sempurna dan
lengkapnya risalah agama langit yang Allah proklamasikan pada haji wada’ dengan
ayat 3 surat Al-Maidah –yang juga sebagai wahyu terakhir turun–, mengharuskan
seluruh manusia tunduk pada Islam. Semua syariat yang terdahulu dengan
sendirinya mansukh (terhapus). Dan, tidak akan ada lagi syariat baru
sesudah risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Risalah dan kenabian telah ditutup
dengan diutusnya Nabi Muhammad. ….tetapi ia (Nabi Muhammad) sebagai utusan
Alah dan penutup nabi-nabi… (Al-Ahzab: 40). Katakanlah: “Hai manusia,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158). Dan
Kami tidak mengutus kamu kecuali untuk seluruh manusia sebagai pemberi kabar
gembira dan pemberi peringatan. (Saba: 28). Dan tidaklah Kami
mengutusmu, kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya’:
107).
Karenanya, Dan
barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (agama
itu) daripadanya. (Ali Imran: 85). Sebab, sesungguhnya agama yang
diridhai Allah adalah Islam. (Ali Imran: 19).
Maka, siapa saja
yang tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad, ia akan celaka dan menjadi orang
yang sesat. Kata Rasulullah saw., “Demi Dzat yang diriku dalam genggaman-Nya,
tidak seorang pun dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani, mendengar (berita
kerasulan)-ku, kemudian ia tidak beriman kepada apa yang aku bawa, kecuali ia
sebagai ahli neraka.” (Muslim)
Allah menegaskan
dalam Al-Qur’am, “Barangsiapa menentang Rasul sesudah nyata petunjuk
baginya dan mengikuti bukan jalan orang-orang mukmin, niscaya Kami angkat dia
menjadi pemimpin apa yang dipimpinnya dan Kami masukkan ke dalam neraka
jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115).
Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasu-Nya dan hendak membedakan
antara (keimanan kepada) Allah dan Rasul-Nya, mereka berkata, kami beriman
kepada setengah (Rasul) dan kafir kepada yang lain, dan mereka hendak mengambil
jalan tengah (netral) antara yang demikian itu. Mereka itu ialah orang-orang
kafir yang sebenarnya, dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan
yang menghinakan (An-Nisa:150-151).
Risalah yang
diturunkan sebelum Nabi Muhammad telah banyak dilupakan, diselewengkan, diubah,
dan ajarannya yang haq telah dihapus. Sehingga, melekatlah kebatilan
di kalangan para pemeluknya, baik dalam masalah akidah, ibadah, dan
perilakunya. Sementara, Islam adalah agama yang sumber ajarannya, Al-Qur’an dan
Hadits, terjaga keshahihannya. Sanadnya tersambung kepada Rasulullah saw.
Apakah ada pilihan bagi kita yang ingin berislam kepada Allah swt selain dengan
mengikuti risalah yang dibawa Nabi Muhammad? Tentu saja tidak.
Allah berfirman,
“Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul Kami,
yang menerangkan (syariat Kami) kepadamu ketika rasul-rasul telah putus supaya
kamu tidak berkata, ‘Tidak datang kepada kami pemberi kabar gembira dan tidak
pula memberi peringatan.’ Allah MahaTahu atas segala sesuatu.” (Al_maidah:
19)
Sumber
Ajaran Islam
Isi ajaran Islam
yang diserukan Nabi Muhammad dapat diketahui dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang
telah diakui keabsahannya oleh para ulama hadits. Islam yang dibawa Nabi
Muhammad merupakan hidayah yang sempurna bagi seluruh umat manusia. Allah
menurunkan Islam ini secara sempurna dan menyeluruh sehingga tidak ada satu
persoalan pun yang menyangkut kehidupan manusia yang tidak diatur. Islam memuat
aspek hukum –halal-haram, mubah-makruh, fardhu-sunnah—juga menyangkut masalah
akidah, ibadah, politik, ekonomi, perang, damai, perundangan, dan semua konsep
hidup manusia.
Begitulah yang
Allah katakan tentang Al-Qur’an. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab
sebagai penjelas segala sesuatu. (An-Nahl: 89). Dan sebagai pemerinci
terhadap segala sesuatu. (Al-A’raf: 145)
Sedangkan yang
belum dijelaskan secara gamblang dan rinci dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dapat
diketahui dengan jalan pengambilan hukum oleh para mujtahid umat Islam
(istimbath).
Kitab dan Sunah
telah menjelaskan semua persoalan yang terkait dengan akidah, ibadah, ekonomi,
sosial kemasyarakatan, perang dan damai, perundang-undangan dan kehakiman,
ilmu, pendidikan dan kebudayaan, serta hukum dan pemerintahan. Para ahli fiqh
membuat klasifikasi ajaran Islam ke dalam persoalan akidah, ibadah, akhlak,
muamalah, dan uqubah (sanksi hukum).
Yang termasuk
dalam urusan akidah adalah masalah hukum dan pemerintahan. Masalah akhlak
adalah masalah tata karma. Sedangkan yang masuk ke dalam urusan ibadah adalah
masalah shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Muamalah menyangkut urusan
transaksi keuangan, nikah dna segala persoalannya, soal-soal konflik, amanah dan
harta warisan. Sedangkan yang masuk dalam kategori uqubah adalah persoalan
qishash, hukuman bagi pencuri, pezina, tuduhan zina, dan murtad.
Tafsir Surat Al-Alaq
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. Karena dia melihat dirinya serba cukup.
8. Sesungguhnya Hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).
9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10. Seorang hamba ketika mengerjakan shalat,
11. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
12. Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
13. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
14. Tidaklah dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
15. Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya,
16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
17. Maka Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
18. Kelak kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,
19. Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).
Makna Mufradat
Arti
|
Mufradat
|
|
|
Dalam Shahih-nya Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. yang artinya demikian, “Wahyu pertama yang sampai kepada Rasul adalah mimpi yang benar. Beliau tidak pernah bermimpi kecuali hal itu datang seperti cahaya Shubuh. Setelah itu beliau senang berkhalwat. Beliau datang ke gua Hira dan menyendiri di sana, beribadah selama beberapa malam. Yang untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian kembali ke Khadijah dan membawa bekal serupa. Sampai akhirnya dikejutkan oleh datangnya wahyu, saat beliau berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” lalu Rasulullah saw. berkata, “Lalu di merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata, ‘Bacalah!’ Aku katakan, ‘ Aku tidak bisa membaca.’ Lalu di merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata,
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Hadits).
Dengan demikian maka awal surat ini menjadi ayat pertama yang turun dalam Al-Qur’an sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia. Wahyu pertama yang sampai kepada Nabi saw. adalah perintah membaca dan pembicaraan tentang pena dan ilmu. Tidakkah kaum Muslimin menjadikan ini sebagai pelajaran lalu menyebarkan ilmu dan mengibarkan panjinya. Sedangkan Nabi yang ummi ini saja perintah pertama yang harus dikerjakan adalah membaca dan menyebarkan ilmu. Sementara ayat berikutnya turun setelah itu. Surat pertama yang turun secara lengkap adalah Al-Fatihah.
Pengertian ringkas ayat-ayat ini adalah: Agar kamu menjadi orang yang bisa membaca, ya Muhammad. Setelah tadinya kamu tidak seperti itu. Kemudian bacalah apa yang diwahyukan kepadamu. Jangan mengira bahwa hal itu tidak mungkin hanya dikarenakan kamu orang ummi, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Allah-lah yang menciptakan alam ini, yang menyempurnakan, menentukan kadarnya, dan memberi petunjuk. Yang menciptakan manusia sebagai makhluk paling mulia dan menguasainya serta membedakannya dari yang lain dengan akal, taklif, dan pandangan jauhnya. Allah swt. menciptakannya dari darah beku yang tidak ada rasa dan gerak. Setelah itu ia mnejadi manusia sempurna dengan bentuk yang paling indah. Allah-lah yang menjadikanmu mampu membaca dan memberi ilmu kepadamu ilmu tentang apa yang tadinya tidak kamu ketahui. Kamu dan kaummu tadinya tidak mengetahui apa-apa. Allah juga yang mampu menurunkan Al-Qur’an kepadamu untuk dibacakan kepada manusia dengan pelahan. Yang tadinya kamu tidak tahu, apa kitab itu dan apa keimanan itu?
Bacalah dengan nama Tuhanmu, maksudnya dengan kekuasaan-Nya. Nama adalah untuk mengenali jenis dan Allah dikenali melalui sifat-sifat-Nya. Yang menciptakan semua makhluk dan menyempurnakan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki-Nya. Dan Allah swt. telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, ya Muhammad. Dan Tuhanmu lebih mulia dari setiap yang mulia. Karena Allah swt. yang memberikan kemuliaan dan kedermawanan. Maha Kuasa daripada semua yang ada. Perintah membaca disampaikan berulang-ulang karena orang biasa perlu pengulangan termasuk juga Al-Mushtafa Rasulullah saw. Karena Allah sebagai Dzat yang paling mulia dari semua yang mulia, apa susahnya memberikan kenikmatan membaca dan menghapal Al-Qur’an kepadamu tanpa sebab-sebab normal. Silakan baca firman Allah,
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (Al-Qiyamah: 17).
“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa.” (Al-A’la: 6).
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia dan mengajarkan manusia untuk saling memahami dengan pena, meski jarak dan masa mereka sangat jauh. Ini merupakan penjelasan tentang salah satu indikasi kekusaan dan ilmu (manusia).
“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Allah memberikan insting dan kemampuan berpikir kepada manusia yang menjadikannya mampu mengkaji dan mencerna serta mencoba sampai ia mampu menyibak rahasia alam. Dengan demikian ia dapat menguasai alam dan menundukkannya sesuai dengan yang diinginkannya.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (Al-Baqarah: 29).
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (Al-Baqarah: 31).
Nampaknya Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk membaca secara umum dan khususnya membaca Al-Qur’an. Setelah itu Allah menjelaskan bahwa hal itu sangat mungkin bagi Allah yang menciptakan semua makhluk dan menciptakan manusia dari segumpal darah. Dia-lah yang Maha Mulia dan tidak pelit terutama terhadap Rasul-Nya. Dialah yang mengajarkan manusia dengan pena tentang apa yang belum pernah diketahuinya.
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya Hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).”
Sungguh benar, bahwa manusia itu melampaui batas, sombong, dan keterlaluan melakukan dosa. Karena ia menganggap dirinya tidak butuh kepada orang lain akibatnya melimpahnya harta, anak-anak, dan lain-lain. Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ia akan kembali kepada Allah swt. dan akan diminta pertanggung-jawaban atas semua yang dilakukan.
Mungkin anda bertanya tentang konsiderasi ayat-ayat ini. Saya katakan bahwa ketika Allah swt. menyebutkan indikasi kekuasaan dan ilmu serta kesempurnaan nikmat yang dianugerahkan kepada manusia. Tujuannya adalah agar manusia tidak ingkar nikmat. Namun apa lacur, ternyata manusia benar-benar mengingkari dan melampaui batas. Oleh karena itu Allah swt. ingin menjelaskan sebabnya, bahwa cinta dunia, tertipu olehnya, dan berambisi terhadapnya dapat menyibukkannya dari melihat ayat-ayat Allah yang agung.
Setelah memerintahkan Nabi-Nya untuk membaca wahyu yang ada di dalam kitab-Nya dan menjelaskan penyebab kekafiran manusia, Allah membuat perumpamaan gembong kekafiran, yakni Abu Jahal. Kendatipun pengertian ayat tersebut umum.
Ceritakan kepada-Ku, ya Muhammad, tentang seseorang yang melarang hamba untuk tunduk kepada Allah dan melakukan shalat. Apa urusanya? Orang itu sungguh mengherankan, ia kafir dan bermaksiat kepada Tuhannya. Ia melarang orang lain melakukan kebaikan terutama shalat. Ceritakan kepada-Ku tentang kondisi orang tersebut, kalau memang ia termasuk golongan kanan dan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk setelah itu ia mengajak orang lain kepada ketakwaan dan kebaikan. Kalau orang itu seperti ini keadaannya tentu ia berhak mendapatkan pahala yang besar dan surga sebagai tempat tinggalnya.
Ceritakan kepada-Ku tentang orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran lalu mengerahkan segenap potensinya untuk mengejar apa yang diinginkan. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah swt. melihat? Sebenarnya mereka mengakui bahwa Allah swt. mengetahui yang gaib dan yang nyata lalu akan membalas masing-masing orang sesuai dengan amal perbuatannya. Kalau amalnya baik balasannya baik dan kalau amalnya buruk dibalas dengan keburukan. Maka bergegaslah kalian, wahai manusia, menuju Allah, bertaubatlah dan beramallah untuk mendapatkan ridha-Nya.
Kalla, kata penolakan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah. Aku bersumpah, jika orang-orang kafir dan pelaku kemaksiatan itu tidak menyudahi perbuatan mereka, Kami akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih. Kami akan hinakan mereka serendah-rendahnya sesuai dengan tingkat kesombongan mereka di dunia. Dan bagi Allah hal itu tidaklah sulit. Akan Kami tarik ubun-ubun mereka dengan kasar. Ubun-ubun yang sering menyombongkan dirinya karena kekuatan dan keyakinanya bahwa dirinya akan selamat dari murka Allah. Padahal tidak ada yang bisa mengalahkan Allah, baik yang ada di bumi maupun di langit. Tentu saja dugaan tersebut salah karena mereka melampaui batas dan berlaku jahat, khususnya terhadap orang-orang baik dan jujur. Kami akan hinakan orang seperti ini, maka biarkan saja malaikat yang memanggil mendorong mereka semua. Bahkan Kami, Allah swt. akan memanggil Zabaniyah. Yakni Allah swt. akan memanggil Zabaniyah, penjaga Jahannam untuk mendorong mereka.
“Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya.”
Pada saat itu mereka tidak memiliki penolong maupun pembantu.
Kalla, tinggalkan orang kafir itu dengan perbuatannya dan jangan sampai mengganggunya, ya Rasulullah. Bersujudlah selalu untuk Allah serta mendekatlah kepada-Nya melalui ibadah, karena ibadah merupakan benteng yang kokoh dan jalan keselamatan. Allahu a’lam. []




















